Single post

CASE ANALYSIS:#1. EMPLOYEE STOCK OWNERSHIP PROGRAM (ESOP) AS AN ANTI TAKEOVER STRATEGY

ESOP SEBAGAI ANTI TAKE OVER STRATEGY

by : Musfir

Employee Stock Ownership Program (ESOP) merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diberikan perusahaan kepada karyawan dalam bentuk kepemilikan saham terbatas. Dengan adanya kepemilikan saham tersebut karyawan diharapkan bisa termotivasi untuk berkontribusi secara maksimal untuk menaikkan kinerja perusahaan. Karena dengan kepemilikan saham, kinerja perusahaan akan berdampak secara linear terhadap kompensasi yang akan diterima. Sehingga dengan ESOP ini diyakini bisa memicu kinerja karyawan yang selanjutnya berdampak pada kinerja perusahaan
Disamping itu ESOP juga bisa digunakan untuk retensi karyawan, karena ESOP akan berakhir dengan sendirinyajikakaryawan sudah keluar dari perusahaan, sehingga karyawan peserta ESOP akan bertahan selama mungkin di perusahaan terutama jika saham perusahaan menujukkan pertumbuhan yang baik. Dengan kata lain program ESOP merupakan bagian dari performance management
.Namun dalam perakteknya, ESOP disamping sebagai bentuk konpensasi ke karyawan, juga bisa dijadikan sebagai benteng pertahanan dari kemungkinan perusahaan diambil alih oleh pihak luar. Kondisi ini yang terjadi di Polaroid pada tahun 1988 saat kinerja perusahaan ini memburuk. Polaroid yang dikenal sebagai perusahaan besar dan menjadi competitor utama Kodak, sejak dulu sudah melakukan program ESOP. Namun di saat Polaroid mengalami kesulitan dan menjadi sasaran akuisisi, management Polaroid meluncurkan program ESOP tambahan yang memicu reaksi keras dari pihak yang berminat untuk mengakuisisi.
Pelaksanaan ESOP tambahan ini dicurigai sebagai strategi Polaroid untuk menghalangi pengambilalihan perusahaan (antitakeover strategy) yang akan dilakukan Shamrock. Hal ini bisa dilihat dari keputusan ESOP yang terburu-buru hanya 1 minggu setalah Shamrosk melontarkan niatnya untuk ikut bersaing dalam pengambilalihan Polaroid. Dengan adanya penamban saham baru sebesar 10 juta saham dimana 14 % diantaranya adalah dipegang oleh karyawan dalam bentuk ESOP, membuat Shamrock kesulitan untuk melakukan akuisisi. Karena hukum Delware dimana Polaroid berdomisili mensyaratkan kepemilikan 85% dari saham perusahaan agar bisa segera mengakuisisi. Nilai 14% dari program ESOP tambahan sudah cukup untuk mengagalkan pengambilalihan.
Shamrock menggugat dengan tuduhan bahwa Polaroid dari awal sudah beritikad untuk menolak akuisisi. Ini dapat dilihat dari adanya rapat direksi mendadak tanggal 12 Juli 1988. Dalam rapat tersebut 3 orang direktur tidak bisa hadir karena pemberitahuan hanya satu minggu sebelum meeting. Namun hal itu dibantah oleh Polaroid yang berdalih bahwa program ESOP baru ini semata -mata untuk menaikkan kinerja korporasi. Dan pengadilan Delaware tidak punya cukup alasan untuk memenuhi tuntutan Shamrock dan program ESOP Polaroid masih dianggap fair.
Menurut pendapat saya, dalam penambahan ESOP baru, tugas fidusia (fiduciary duty) dari para direksi layak untuk dipertanyakan. Dimana tugas fidusia dari director adalah mengambil keputusan yang profesioanal dan etik kepada terhadap koorporasi dan masyarakat yang ditandai dengan kemampuan untuk mengabaikan kepentingan pribadi demi menyelamatkan kepentingan bisnis. Kejanggalan ini dapat dilihat pada meeting Direksi tangga 12 Juli yang membahas hal penting yang terkait dengan rencana bisnis secara konprenhensip yaitu :
 Reorganisasi dan penataan sasaran bisnis dan R&D untuk fokus pada pasar yang ditargetkan
 Rencana program pensiun dini dan pengunduran diri secara sukarela untuk mempercepat pengurangan karyawan
 Keputusan untuk masuk ke pasar global untuk produk film konvensional 35mm
 ESOP
Keempat hal yang di bahas dalam meeting direksi adalah hal yang sangat strategis dan sangat tidak lasim kalau pemberitahuannya hanya satu minggu sebelum pelaksanaan rapat, lagi pula tidak dihadiri oleh sebagian director. Pada saat tersebut, kinerja bisnis Polaroid dalam keadaan kritis dan menurut beberapa analis keuangan Polaroid harus diselamatkan dengan akuisisi. Dengan kata lain takeover bisa saja menjadi opsi yang terbaik untuk menyelamatkan bisnis Polaroid. Akan tetapi di interrnal managemen team Polaroid sepertinya tetap ingin bertahan dengan memasukkan program ESOP sebagai bagian dari strategi menolak akuisisi.
Patut dicurigai pula, bahwa sebenarnya meeting tersebut adalah hanya fokus pada masalah ESOP. Jika program ESOP tambahan ini disetujui, maka peluang Sharmrock untuk mengakuisisi Polaroid akan tertutup. ESOP tambahan ini dipergunakan oleh Polaroid sepagai tameng untuk mencegah takeover. Pertanyaannya kemudian adalah apakah ESOP baru ini dapat mengangkat kinerja bisnis yang sudah terpuruk ?
Pertanyaan ini terjawab beberapa tahun kemudian. Pada akhirnya memang Polaroid tidak diakuisisi oleh Sharmrock, tidak lama setelah itu Polaroid kewalahan  dan diambilalih oleh Korporasi lain dan pada tahun 2005, riwayat Polaroid sebagai entitas korporasi sudah berkhir dan Polaroid dikenal hanya sebagai brand.

LEAVE A COMMENT

theme by teslathemes