Single post

CASE ANALYSIS #4 : NORMATIVE MYOPIA AT AMERICAN INTERNATIONAL GROUP ( AIG )

Financial and Ethical Risks at American International Group (AIG)

by :  Musfir

Dalam kasus AIG ini, beberapa isu finansial dan etik sebagai berikut :
 Tindakan spekulatif dalam bisnis keuangan yang berisiko tinggi
 Kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap keputusan keputusan AIG
 Kurangnya transparasi informasi AIG kepada stake holder external
 Lemahnya pengawasan internal
 Perilaku mementingkan diri sendiri dari executive AIG tanpa peduli dengan external stake holder ( masyarakat )

Isu-isu di atas dapat dilihat dari uraian di bawah ini :
Di bawah kepemimpinan Maurice “Hank” Greenberg, bisnis AIG berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Kekuatan lobi dan kedekatannya dengan pihak pemerintah dan para ligislator membuat AIG seperti tak terawasi. Sehingga keputusan bisnis apapun yang dilakukan oleh AIG selalu menepis keraguan dari regulator karena kelihaian dari Greenberg untuk melobi lewat pintu belakang. Hal ini membuat AIG seperti jalan sendiri tanpa pengawasan yang memadai, Keberanian AIG untuk mengabil resiko yang sangat besar ( excessive risk ) dan cenderung spekulatif akhirnya menjadi budaya dan cenderung tak terkendali.
Kemana para penjaga gerbang (gatekeeper) AIG? Peran Auditor, analis, Internal Auditor ,sebagai penjaga gerbag sepertinya tak tampak dalam mengerem agresifitas AIG. Hal ini ditunjukan oleh hasil investigasi faderal menemukan indikasi transaksi palsu reinsurance dengan General Re Corporation di mana Greenberg ditengarai terlibat secara personal yang memicu kenaikan semu nilai AIG di mata investor. Disamping itu, pada tahun 2005 AIG juga memanipulasi laporan keuangan.
Tentu hal ini merupakan tindakan yang sangat tidak etis di mana masyarakat sebagai stake holder terbesar mendapat informasi yang tidak jujur dari perusahaan yang mengakibatkan kerugian. Dan Greenberg sebagai petinggi AIG tidak memenuhi tugas fidusianya (fiduciary duties) yaitu kewajiban etik dan profesional kepada klien AIG. Tindakan yang dilakukan oleh exekutif AIG Josep Cassno dan Sullivan yang terus meyakinkan auditor dan investor bahwa produk produk keuangan yang ditawarkan sudah diuji dengan metode yang sangat akurat (padahal ternyata tidak akurat) merupakan contoh lain pengingkaran dari fiduciary duties di atas.
Setelah rumor praktek curang ini bocor ke nasyarakat, saham AIG mulai rontok.Seiring melemahnya saham AIG, Dewan Direksi mulai sadar bahaya yang akan menimpa dan Greenberg di berhentikan. Tapi semuanya sudah terlambat. Beberapa waktu kemudian, AIG tidak sanggup membayar kewajiban kepada nasabah yang menggiring AIG dalam kebangrutan. Dalam hal ini Dewan gagal dalam menciptakan lingkungan pengendalian (control environment) yang mengacu pada isu budaya seperti integritas, nilai-nilai etis, filosofis dan gaya operasi dalam menjalankan perusahaan.
Dewan Direksi juga lalai dalam menjalankan kewajiban hukum sebagai anggota dewan di mana seorang anggota Dewan mempunyai tugas untuk memberikan perhatian ( duty of care) yaiti meberikan perhatian yang cukup untuk memastikan exekutip perusahaan mematuhi aturan demi kepentingan terbaik perusahaan, tugas untuk beritikad baik (duty of good faith ) yaitu kepatuhan dan kesetiaan pada misi perusahaan, tugas akan loyalitas (duty of loyalty) yaitu memberikan kesetiaan penuh ketika membuat keputusan yang memengaruhi organisasi dan kemapuan mengabaikan kepentingan pribadi untuk kepentingan perusahaan. Tindakan Greenberg yang begitu “bebas” merupakan bukti dari kelalaian Dewan Direksi dalam menjalankan tugas di atas.
Dalam kondisi menjelang bangrut, Pemerintah memutuskan mengambil alih AIG dengan membeli sebagian besar saham (bailout) yang berasal dari dana pembayar pajak (tax payer). Bailout yang dilakukan oleh pemerintah juga menuai kontraversi dari berbagai kalangan, karena hal yang sama tidak dilakukan saat krisis yang parah melanda Lehman & Brother. Namun pemerintah punya alasan yang kuat, dana besar yang digelontorkan dari proses bailout ini diyakini akan mampu meredam dampak sistemik dari kebangrutan AIG dimana dampak sistemik ini akan meronntokkan ekonomi amerika secara massif bahkan akan berimbas pada resesi global.
Namun sayangnya, para executive di AIG memanfaatkan sebagian dana talangan ini untuk membayar bonus ke karyawan dengan dalih bahwa pembagian bonus tersebut dibayar untuk mempertahankan orang orang top diperusahaan (retention program) sudah diperjanjikan sebelumnya dan oleh karenanya harus dibayar. Keputusan untuk tetap membayar bonus dari dana talangan pemerintah di saat perusahaan di ambang kebangkrutan menggambarkan bahwa para pengambil keputusan di AIG tidak memiliki sensitivitas terhadap issu etis bahkan cenderung tidak masuk akal dan tidak bertanggung jawab terhadap stake holder ( para pembayar pajak). Mereka mengambil keputusan dengan pertimbangan yang sempit dan focus pada kepentingan diri sendiri dan tidak memerhatikan kepetingan stake holder yang lain. Ketidakmampuan mengenali issu etis ini dikenal sebagai normative myopia atau pandangan sempit terhadap nilai-nilai.
Kontroversi yang dipertentontonkan oleh Top Exekutif AIG terus berlanjut. Dua bulan setelah diambil alih pemerintah, sebuah konfrensi mewah di sebuah resort yang dihadiri oleh 150 perencana keuangan dan Top Exekutif menghabiskan biaya $ 343,000. Walaupun menurut pejabat AIG bahwa dana ini dari sumbangan sponsor, acara tersebut tidak pantas dilakukan dalam situsi seperti itu.

Selama dalam kendali pemerintah AIG pelan-pelan mulai membaik. Upaya untuk mengembalikan reputasi perusahaan dan memulihkan kepercayaan masyarakan merupakan syarat utama untuk menormalkan kembali bisnis AIG.

LEAVE A COMMENT

theme by teslathemes