Single post

CASE ANALYSIS #5: EMPLOYEE DISCRIMINATION

CASE ANALYSIS #:5 EMPLOYEE DISCRIMINATION ( WAL-MART CASE )
By : Musfir

Kasus ini berawal dari di tahun 2001, ketika sekelompok wanita menggugat perusahaan Wal Mart atas tuduhan diskriminasi kepada pekerja wanita dengan memberikan gaji yang lebih rendah terhadap wanita untuk jenis pekerjaan yang sama dan mendahulukan promosi bagi pria meskipun ada pekerja wanita yang lebih baik. Walaupun gugatan ini pada akhirnya dimentahkan karena para penggugat kalah di tingkat “Mahkama Agung”, dan Wal Mart dinyatakan tidak bersalah, kita anggap saja telah terjadi “diskriminasi” di Wal-Mart.

Ada dua perpektif dalah hal etika dalam kaitannya dengan hubungan kerja;
1. Concequentialist approach yang lebih cenderung serupa dengan etika utilitarianisme yang menekankan bahwa memperlakukan karyawan dengan baik dapat menciptakan kondisi kerja yang kondusif yang berdampak pada kenaikan produktifitas. Keputusan untuk memerlakukan karyawan dengan baik lebih disebabkan oleh dorongan untuk mendapatkan konsekuensi positif yaitu dengan naiknya produktifitas dan berdampak langsung pada bisnis.
2. Dentologist approach yang menekankankan bahwa memperlakukan pekerja dengan baik adalah hal yang memang seharusnya dilakukan karena hal tersebut adalah sebuah kebenaran. Sesuai dengan semangat dentologist bahwa manusia harus menjadi subjek dari sebuah keputusan etis, bukan menjadi sekadar menjadi objek. Sehingga perlakuan baik terhadap karyawan adalah sebuah kewajiban tanpa harus mengaitkan dengan konsekwensi yang ditimbulkannya. Demikian pula sebaliknya, karyawan juga harus memperlakukan perusahaan dengan baik karena hal itu benar. Dengan kata lain pendekatan ini lebih mengedepankan pelaksanaan hak dan kewajiban dari kedua bela pihak.
Terkait dengan issu diskriminasi di Wal Mart, keputusan “diskriminatif” tersebut bertentangan dengan kedua pendekatan di atas.
Ambisi Wal-Mart lewat misinya “saving people money so they can live better.” adalah sebuah misi mulia yang berdampak baik bagi masyarakat luas dan secara sepintas tampak sangat etis. Tapi konsekuensi positif bagi sekolompok orang, menurut utilitarian, tidak boleh mengabaikan dampak negatif pada kelompok lain dan oleh karenanya diperlukan pertimbangan konprenhensif dampak dari sebuah keputusan terhadap semua stakeholder baik stakeholder external maupun internal. Pertimbangan konprehensif ini sangat dibutuhkan agar pengambil keputusan tidak terkena normative myopia yaitu kehilafan dalam mengenali issu etis.

Dari segi pendekatan dentologis, jelas sangat bertentangan karena tradisi dentologis mengarahkan kita untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai moral seperti hak-hak asasi manusia (rights) di mana bekerja tanpa diskriminasi merupakan salah satu dari hak asasi manusia yang sudah di adopsi oleh PBB tahun 1948 yang diantaranya berbunyi ;
“ Pasal 23 , ayat 2. Setiap orang tanpa diskriminasi berhak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama,”
Di sini jelas terlihat bahwa karyawan berhak untuk diperlakukan tanpa diskriminasi yang dengan sendirinya mewajibkan perusahaan untuk tidak mengambil keputusan diskriminatif.

Langkah Wal-mart setelah dituntut oleh para pegawainya dengan mengeluarkan peraturan “Global Statement Ethics” yang menjadi standar etika bisnis perusahaan kepada seluruh fasilitas Wal-Mart dan para stakeholder, dan menggunakannya sebagai guidelines yang dapat diakses siapa saja adalah sebuah langkah tepat untuk mengurangi efek samping dari kasus yang menimpanya. Juga akan menjadi pegangan bagi pengabil keputusan untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang etik. Hal ini juga akan menjadi alat kontrol dimana karyawan bisa memantau apakah perusahaan mengambil keputusan yang benar atau tidak berdasarkan dari guideline yang sudah disosialisasikan.

LEAVE A COMMENT

theme by teslathemes